img_0017_new

Perubahan diri atau pengembangan personal sering menjadi topik hangat dalam dunia pengembangan SDM (human resource development). Muncul baik dalam bentuk buku, artikel, pelatihan, seminar, dan sekedar “free talk” semata. Dalam dunia yang menuntut mental kompetitif, perubahan diri akhirnya dibutuhkan untuk menyesuaikan dengan persaingan antara manusia dalam mencapai prestasi… apapun.

Menurut Yodhia Antariksa, sejumlah pakar perilaku (behavioral expert) menyebut proses perubahan acap menjadi tidak efektif lantaran diawali dengan pendekatan weakness-based orientation. Sering juga disebut sebagai problem-based orientation. Maksudnya begini : inisiatif perubahan diawali dengan premis bahwa ada yang “salah” dalam diri kita atau organisasi kita. Bahwa diri kita atau organisasi kita memiliki banyak kekurangan (weakness) dan problem.

Untuk itulah kemudian kita melakukan serangkaian action untuk “mengobati” kelemahan itu, atau juga untuk mengobati problem tentang kita. Pendekatan problem-based atau weakness-based ini begitu merasuk dalam wacana manajemen selama ini. Begitulah kita lalu mengenai ilmu problem solving skills, atau competency gap analysis, atau juga beragam metode untuk menganalisa akar masalah (root cause problem analysis). Semua metode ini berangkat dari premis yang tadi itu : bahwa ada “kekurangan”, “penyakit” atau “problem” dalam diri kita atau organisasi kita, dan kita harus mengobatinya.

Dan aha, sejumlah studi menunjukkan bahwa pendekatan semacam itu acapkali tidak efektif dalam membawa keunggulan kinerja atau personal. Sebabnya sederhana : pendekatan tersebut dengan mudah mendorong kita untuk terjebak dalam negative mindset and culture. Kita menghabiskan energi yang begitu banyak dan melelahkan untuk hanya berkutat pada kekurangan, pada kelemahan, pada problem (masalah) yang seolah-olah tak pernah kunjung selesai.

Pendekatan yang beorientasi pada problem dan weakness-based itu dengan mudah juga akan membawa kultur pesimisme dan men-discourage semangat kita. Kita menjadi pesimis sebab seolah-olah kita memiliki begitu banyak kelemahan/masalah. Dalam situasi ini, kita dengan mudah kehilangan inspirasi dan motivasi.

Itulah kenapa kini muncul pendekatan yang secara radikal berbeda dengan pendekatan diatas. Pendekatan baru ini acap disebut sebagai strenghts-based orientation. Prinsip dasar dari pendekatan ini adalah : kita akan berhasil menuju ke arah yang lebih baik, jika inisiatif perubahan itu bertumpu pada kekuatan yang telah kita miliki saat ini. Kuncinya adalah ini : focus on your positive strenghts.

Jadi alih-alih menghabiskan energi untuk berfokus pada kekurangan (ingat : competency gap analysis) atau pada problem , kita justru harus mencari elemen kekuatan yang telah ada pada diri kita, atau elemen positif yang telah hadir inside us. Alih-alih menggunakan bahasa “root cause of problem”, kita harus menggunakan frasa “root cause of success” untuk melacak kisah keberhasilan yang pasti sudah pernah ada dalam diri kita.

Konkritnya : alih-alih meratapi kelemahan diri Anda terus menerus, mengapa tidak mengingat apa kira-kira kekuatan (strenghts) yang ada dalam diri Anda, atau pengalaman positif yang pernah Anda miliki (pasti dong Anda punya kelebihan atau pengalaman positif). Nah, studi menunjukkan bahwa kinerja individual akan jauh melesat jika kemudian “poin-poin positive” yang sudah ada itu terus diakumulasi, diduplikasi dan terus dimekarkan menuju titik yang optimal.

Secara ekstrem pendekatan ini mau mengatakan hal seperti ini : forget your weakness/problems, and just focus on your strenghts/positive expectations. Find your positive areas and discover your bright spots. Dan ajaibnya, beragam studi menunjukkan premis semacam itu ternyata telah berhasil mengubah banyak individu dan organisasi melesat menjadi lebih sukses.

Jadi mulai hari ini, jika Anda ingin menjadi pribadi yang lebih sukses, selalu ingatlah kalimat ini : always, and always focus on your bright spots (dicuplik dari artikel Yodhia Antariksa)

limbo-reBanyak orang mengatakan: To Be Your/My Self its Better, tapi harus dipahami bahwa sebenarnya Menjadi Diri Sendiri Harus Tetap Menjadi yang Diinginkan Orang Lain

Sadarkah anda bahwa kita hidup di wilayah konstrual yang berkonsep kolektif konstrual? Artinya, bahwa dalam kehidupan orang-orang timur (bukan Barat), kolektivitas akan menjadi unsur utama untuk membantuk diri menjadi orang sukses. Terlepas bahwa semakin unik diri kita maka akan semakin dikenal dan orisinil dalam hal kreaticitas, namun perhatian terhadap pandangan masyarakat atas perbuatan kita harus tetap ada dalam perbuatan dan perkataan yang kita lakukan dan ucapkan…

Cerita ini mungkin menggambarkan sedikit tentang hal di atas, meskipun mungkin juga kurang tepat benar,

Si A (seorang tokoh politik aliran keras selama 15 tahun) merasa bahwa dia sukses karena melawan arus dari kebanyakan norma masyarakat ketimuran (baca: Indonesia). Bila bicara tentang sukses adalah kekayaan, mungkin dia sudah mencapai keinginannya. Dalam setiap seminar dan ceremonial, disebutkan motto hidupnya: “be your self”. Hidupnya dipenuhi dunia politik dan kesuksesannya yang dipenuhi intrik-intrik yang secara tataran nilai dan norma, sungguh tak diduga dalam upacara pemakamannya hanya dihadiri puluhan orang, itu pun kehadirannya seperti sekedar basa-basi semata meskipun beberapa karangan bunga berdiri di depan rumahnya.

Sementara B (seorang ketua RW selama 15 tahun hanya seorang satpam suatu BUMN), bertetangga dengan A selama 25 tahun, dengan kesederhanaan hidupnya dan kemauan berempati kepada masyarakat membuatnya “harum” di masyarakat. Tatkala meninggal dunia, pelayatnya sungguh-sungguh di luar dugaan ratusan orang (bahkan mungkin ribuan), ditangisi kepergiannya, dan atas pengabdiannya di perusahaan tempat bekerja, anaknya yang masih bersekolah bahkan kemudian menjadi tanggungan perusahaan sampai di perguruan tinggi. Beliau tidak pernah menyebutkan motto hidupnya, tapi mungkin bila diterjemahkan dengan kata-kata: “be your self, but your value is your collective value”.

lambaiSering kita terjebak dalam pemikiran bahwa kita sudah melakukan yang terbaik untuk saat ini. Dan jebakan tersebut semakin berhasil ketika kita mulai merasa sombong dan lupa diri. Dua penyakit hati yang susah dienyahkan manusia bila dikaitkan dengan pencapaian atau prestasi… Pertanyaannya: sudahkah kita memaksimalkan diri? Untuk itu ada 3 hal yang harus dijawab:

1. Ada apa tujuan (cita-cita) hidup yang telah dicanangkan

2. Ada apa pengalaman hidup yang menandakan suatu pencapaian

3. Ada apa dengan 24 jam per hari yang sudah kita lakukan

Memaafkan

Author: ugung

bersyukurSeorang Ibu Guru TK mengadakan “permainan”. Ibu Guru menyuruh tiap muridnya membawa kantong plastik transparan, diisi beberapa kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama nama orang atau temannya yang dibenci. Sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan banyaknya, tergantung jumlah orang/teman yang dibenci.

Pada hari yang disepakati, masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik.  Ada yang berisi kentang 2, 3 bahkan ada yang 5.

Menuruti perintah guru mereka, tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci. Mereka harus membawa kantong
plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena beban penderitaan membawa kentang tersebut akan segera berakhir.

Ibu Guru: “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu?”

Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke manapun mereka pergi.

Guru pun menjelaskan apa arti dari “permainan ” yang mereka lakukan.  Ibu Guru: “Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain.  Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu, bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ?”

Alangkah tidak nyamannya …

Karena itu lepaskanlah pengampunan kepada orang yang Anda benci.

Karena ketika Anda tidak mau mengampuni, Anda seperti sedang memegang bola berduri.  Semakin anda tidak mau melepaskan bola berduri itu, Anda sendiri yang akan merasakan sakit. Karena itu tidak ada jalan lain kecuali melepaskan pengampunan.

logo-best2BEST (Becoming Excellence Student Training) is a training that made for students (especially at college).
On the first day, training was introduced, understand, and develop students’ potential by combining aspects of intellectual, emotional, adversity, spiritual, physical, metaphysical, willingness and curiosity. This is an effort to get to know ’self’ (ma’rifatul insan).
On the second day, this training introduces, understand related to religion , especially Islam which is followed by an introduction to Allah SWT (God) and Muhammad as messengers of God (ma’rifatul islam).
At the end of training, will be concluded about the concept of students who excel and reinforced by nationalistic motives and concern for community problems, as agents of change. It is a good step for excellence students to be an excellence person (insan kamil).

rasa_percaya_diri

Perasaan sayang pada seseorang yang kita miliki bisa merupakan cinta atau tidak tergantung banyak hal, yaitu niat, proses, atau tujuan akhirnya. Kalau niatnya hanya sekedar mengejar kesenangan atau status, bisa jadi beda dalam menjalani prosesnya, apalagi tujuan akhirnya, misalnya niat buruk sekedar hanya memuaskan nafsu syahwat atau niat baik menjalin tali silaturrahim. Ada juga niatnya bagus yaitu berkorban untuk orang yang kita sayangi, tapi karena prosesnya salah, maka tujuan akhirnya jadi berantakan, misalnya hamil pra nikah.  

Menurut Teori cinta atau yang disebut Teori Triangular yang diungkapkan oleh Stenberg’s menyebutkan ada tiga komponen dalam cinta, yaitu (1) intimacy (keintiman, artinya selalu ada keinginan untuk berdekatan secara fisik), (2) passion (gairah, artinya nafsu biologis), dan (3) commitment (komitmen, yang biasanya diwujudkan dalam bentuk lisan dan perbuatan). Komponen keintiman merupakan elemen emosi.

Atau juga ada cinta dengan komponen: love, trust, respect, dan honest. Adanya perasaan kasih sayang, kepercayaan, rasa hormat, dan kejujuran. Jadi, seandainya keempat unsure itu muncul, mungkin itulah yang disebut cinta sejati.

 

Nah, saya punya sedikit konsep baru berdasar apa yang terserak dari pengalaman hidup dan sesi konseling remaja, yaitu ada tahapan menuju cinta antar manusia, misalnya, yaitu:

Satu. Naksir (adanya perasaan “greng” dalam tahap awal secara fisik),

Dua. Suka (adanya perasaan ingin memiliki),

Tiga. Simpati (mulai bisa merasakan apa yang dia rasakan), dan

Empat. Cinta (mau berkorban untuk kebahagiaannya), tentunya juga yang lebih tinggi yaitu cinta sejati, yaitu rela berkorban demi kebahagiaannya, termasuk melepasnya bila dia lebih bahagia dengan orang lain.

Apapun itu cinta, dia hanya bagian dari komponen dalam diri kita. Karena cinta itu sifatnya fitrah dan naluriah, serta letaknya ada di afeksi (perasaan/hati/qalbu). Ada baiknya kita menggunakan komponen lain dalam melakukan interaksi dengan orang yang kita sayangi, yaitu logika (aql). Jangan sampai dengan (misal) pacaran justru hanya mengagungkan pasangan secara fisik dan aktivitas pacaran belaka, tapi tetap berpikir tentang norma sosial dan agama serta masa depan.

Komponen lain dalam diri kita yang perlu diaktifkan yaitu komponen spiritual, yaitu melibatkan keyakinan terhadap Allah SWT bahwa perasaan cinta yang diberikan-Nya adalah anugerah dan perbuatan kita saat ini merupakan sesuatu yang diawasi oleh-Nya. Dan, berbicara cinta yang hakiki sebenarnya cinta Allah SWT terhadap kita manusia, coba hitung berapa nikmat yang diberikan sampai saat ini, termasuk sampai Anda bisa membaca tulisan ini, ada anugerah penglihatan, pikiran, kesehatan dan kesempatan.

Jadi, benar jodoh ada di tangan Allah SWT, dan untuk mendapatkan cinta sejatimu, dekatkanlah dirimu kepada cinta hakikimu kepada-Nya, dengan beribadah dan berakhlak mulia, sambil terus belajar tentang kehidupan.

 

Multitasking

Author: ugung

stress

Mempertahankan Motivasi

Author: ugung

ugung2

Sebagai mana keimanan dan suasana hati, motivasi bisa naik bisa turun. Misalnya, kalau mendengar suara adzan di tengah kesibukan pekerjaan (yang bisa ditinggalkan), kemudian kita segera mendatangi adzan, atau minimal menjawab adzan tersebut kemudian mensegerakan diri untuk sholat, maka keimanan kita sedang dalam level atas. Namun bila mendengar suara adzan dan kita mengabaikan untuk terus bekerja, atau malah memilih untuk tidur dulu, baru menunda sholat di waktu sempat, maka keimanan kita sedang dalam level agak bawah, apalagi kemudian mengabaikan dan meninggalkan sholat, itu level terbawah.

Nah, demikian juga motivasi, bisa naik dan turun tergantung dari motif (kata dasar motivasi) yang kita miliki dan kondisi yang mengiringi. Motivasi dan motif ada yang berasal dari internal dan ada yang berasal dari eksternal. Untuk kita bisa mempertahankan motivasi tetap tinggi, bahkan meningkat ada beberapa tips yang saya bagikan:

Satu. Mempertahankan Motivasi Internal

  • Mengevaluasi diri. Semakin sering kita mengevaluasi langkah dalam hidup dan apa yang ada pada diri kita, semakin kita tahu apa yang harus kita lakukan. Evaluasi diri akan memacu orang untuk membuat “hari esok lebih baik dari hari ini”.
  • Memperkuat kebiasaan positif baru. Kalau kita menemukan kelemahan dan kekurangan hasil dari evaluasi diri, maka tugas kita untuk merubah banyak hal untuk menjadi lebih baik. Nah, buatlah kebiasaan positif baru untuk memperkuat karakter positif kita.
  • Mengeliminir kebiasaan negatif lama. Banyak kebiasaan jelek yang kita miliki, kita harus secara sadar mengeliminirnya, bukan mengandalkan orang lain untuk “mengawasi” kita.
  • Memiliki self efficacy. Keyakinan diri atas kesuksesan dari rencana hidup kita akan membawa pada motivasi yang menetap di level atas. Keyakinan didasarkan atas mimpi yang “bertuan, bertuhan & bertujuan”.

Dua. Mempertahankan Motivasi Eksternal

  • Membangun support system. Meminjam istilah yang saya dapat dari pak Bambang Nugroho (semarang), support sistem adalah supporter yang akan menyelentik ketika kita berbuat keliru dan di jalan yang sesat. Mereka adalah:

                  -   Ortu, pastinya karena rasa sayang tanpa batas yang mereka miliki untuk “darah”nya.

                  -   Keluarga, karena self belongingness berbasis kekerabatan yang dimiliki.

                  -   Sahabat, atas kedekatan hati dan kesamaan visi hidup.

                  -   Ustad, atas tanggung jawab dakwah dan konsekuensi sereligi.

                  -   Jamaah, karena intensitas bertemu itu akan mengikat pada visi yang sama.

                  -   Mentor, karena tanggung jawabnya untuk menularkan pengetahuan yang sama.

                  -   Atasan/Guru/Dosen Kita, orang-orang yang memiliki jiwa mendidik dan membimbing. 

                  -   Orang-orang yg peduli, yang mungkin kita tidak duga kapan datangnya.

 

  • Meletakkan diri di lingkungan positif. Lingkungan yang baik adalah lingkungan di mana kita bisa melakukan adjustment (merubah sesuai keinginan kita) dan adaptasi (mengikuti keinginan sesuai lingkungan dan paradigma mereka).

dsc02537Percaya diri adalah bagian dari alam bawah sadar dan tidak terpengaruh oleh argumentasi yang rasional. Ia hanya terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat emosional dan perasaan. Maka untuk membangun percaya diri diperlukan alat yang sama, yaitu emosi, perasaan, dan imajinasi.

Emosi, perasaan dan imajinasi yang positif akan meningkatkan rasa percaya diri. Sebaliknya emosi, perasaan dan imajinasi yang negatif akan menurunkan rasa percaya diri. Bagaimana caranya supaya diri kita selalu dikelilingi oleh energi positif yang maksimum? Simak kiat-kiat berikut ini :

1. Menghilangkan pengaruh negatif.
Sejak lahir dan sepanjang hidup kita mengalami rangsangan positif dan negatif dari lingkungan silih berganti. Orang yang sepanjang hidupnya menerima rangsangan negatif relatif akan memiliki kadar percaya diri yang rendah. Rangsangan negatif dapat berasal dari lingkungan keluarga, masyarakat sekitar, kantor atau lingkungan pekerjaan, sekolah dan sebagainya.

Apabila kita terperangkap dalam suatu kondisi hubungan antar manusia yang sangat buruk, segera cari solusi. Cara pertama adalah dengan berdamai atau berkompromi dengan lingkungan. Terima kondisi dengan ikhlas. Tapi kalau tidak membawa hasil positif, lebih baik keluar saja dari lingkungan tersebut apapun resikonya.

2. Pengakuan dan Penghargaan
Pengakuan dan penghargaan orang lain terhadap keberadaan, perbuatan atau prestasi kita, akan sangat meningkatkan rasa percaya diri. Masalahnya tidak banyak orang lain yang melakukan hal itu. Hanya orang-orang positif yang mau melakukan hal itu.

Solusinya adalah bergabunglah dengan kelompok orang-orang yang positif. Cara lain, kita bisa memulai dengan melakukan pengakuan dan penghargaan pada diri kita sendiri. Sekecil apapun perbuatan positif yang kita lakukan, akui dalam diri kita, atau beri hadiah kecil-kecilan.

3. Pujian
Sama seperti halnya pengakuan, pujian dapat meningkatkan rasa percaya diri kita. Siapa yang tidak senang kalau ada yang memuji penampilan, kepintaran atau keahlian kita. Pujian pun jarang diberikan pada lingkungan orang yang mayoritas berpikiran negatif.

4. Memanjakan diri
Memanjakan diri itu penting dan perlu. Karena dengan begitu, kita akan merasa sebagai manusia yang berharga dan bisa menghargai orang lain.

5. Beranggapan baik terhadap diri sendiri
Ini cara yang paling mudah untuk meningkatkan percaya diri kita, karena dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.

6. Dapatkan input positif melalui panca indra
Input positif dapat diperoleh lewat kisah-kisah heroik, kisah sukses, kisah yang motivatif dan emosional dari tokoh atau pebisnis yang sukses. Kisah-kisah tersebut dapat memotivasi kita untuk berpikir dan bertindak positif. Kita bisa mendapatkan input tersebut dari buku, kaset, dan tv.

7. Biasakan bersikap positif
Mulailah bersikap positif dari diri sendiri dengan melakukannya pada kehidupan sehari-hari. Pastikan memori kita hanya menyimpan peristiwa positif. Pandang orang lain secara imbang dengan diri kita. Selalu berbuat jujur. Dan tunjukan bahwa kita memang punya rasa percaya diri.

- Dirangkum dari harian Indo Pos.

4 Jenis Orang Pintar

Author: ugung

lightbulbBanyak orang pintar (smart) di muka bumi ini, begitu pula banyak orang pandai (clever) dan cerdas (intelligence). Pintar bukan sekedar mampu melakukan sesuatu. Pintar mau dan mampu berbuat sesuatu. Cenderung kepintaran orang dikaitkan dengan ketrampilan atau kecakapan, baik verbal maupun nonverbal (teknis). Itulah kenapa ada orang mengatakan pintar bicara, pintar menulis, pintar merakit, atau juga pintar mengendarai, meskipun bisa juga dikaitkan dengan hal-hal yang berkonotasi negatif seperti pintar mencuri, pintar berbohong, dsb. Ada 4 jenis orang yang akhirnya bisa pintar atau akhirnya tampak pintar di bumi ini:

1.  Orang (yang memang) pintar. Orang ini dari ’sono’nya memang diberi kelebihan di dalam kecerdasannya sehingga mampu mengolah data di otaknya untuk membuat sebuah ‘jalan keluar’ dan mampu ‘melakukan sesuatu’. Di sini pintar seakan terkait dengan genetika.

2. Pintar karena dipaksa pintar. Banyak sekali anak buah yang ‘terpaksa’ pintar untuk memenuhi tuntutan tugas atasannya. Atau juga mahasiswa yang akhirnya pintar karena dosennya menuntut suatu tugas dan bahkan sampai diawasi/dimonitoring pengerjaannya. Akhirnya dia bisa melakukan sesuatu, tapi tanpa orang lain tersebut, dia bisa kembali menjadi bodoh…

3. Pintar karena memaksa diri untuk pintar. Ada orang-orang yang ‘tanpa sengaja’ bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi atau memberi ide padanya, namun kemudian memberi daya letup pada dirinya untuk berubah menjadi seperti yang diinginkan inspirator tersebut. Dia mau berubah dan mau berbuat sesuatu untuk dirinya sendiri tanpa paksaan orang lain, dan memiliki inner energy untuk berbuat. Orang seperti ini biasanya hidup dalam habit yang positif, atau dulu mungkin ketika kecil mendapat seni parenting yang motivatif. Hasilnya, orang ini selalu berusaha untuk pintar, meskipun secara genetik dia sebenarnya tidak terlahir dengan kecerdasan tinggi.

4. Sok pintar. Tipe ini banyak sekali di sekitar kita, tapi mereka kebanyakan (relatif) sukses juga, dibandingkan yang memilih diam dan mengalah. Mereka yang sok pintar akhirnya tertampak pintar do mata orang lain, dan itu sudah cukup untuk terlihat berbuat sesuatu dan berhasil. Namun, orang sok pintar hanya bertahan kepintarannya pada orang-orang baru, pada orang-orang lama yang makin mengenalnya dia menjadi tidak terlihat pintar juga akhirnya…

So, termasuk jenis yang manakah anda? atau, anda bukan termasuk orang-orang pintar?