Apr
19
2010
Mempertahankan Motivasi
Author: ugung
Sebagai mana keimanan dan suasana hati, motivasi bisa naik bisa turun. Misalnya, kalau mendengar suara adzan di tengah kesibukan pekerjaan (yang bisa ditinggalkan), kemudian kita segera mendatangi adzan, atau minimal menjawab adzan tersebut kemudian mensegerakan diri untuk sholat, maka keimanan kita sedang dalam level atas. Namun bila mendengar suara adzan dan kita mengabaikan untuk terus bekerja, atau malah memilih untuk tidur dulu, baru menunda sholat di waktu sempat, maka keimanan kita sedang dalam level agak bawah, apalagi kemudian mengabaikan dan meninggalkan sholat, itu level terbawah.
Nah, demikian juga motivasi, bisa naik dan turun tergantung dari motif (kata dasar motivasi) yang kita miliki dan kondisi yang mengiringi. Motivasi dan motif ada yang berasal dari internal dan ada yang berasal dari eksternal. Untuk kita bisa mempertahankan motivasi tetap tinggi, bahkan meningkat ada beberapa tips yang saya bagikan:
Satu. Mempertahankan Motivasi Internal
-
Mengevaluasi diri. Semakin sering kita mengevaluasi langkah dalam hidup dan apa yang ada pada diri kita, semakin kita tahu apa yang harus kita lakukan. Evaluasi diri akan memacu orang untuk membuat “hari esok lebih baik dari hari ini”.
-
Memperkuat kebiasaan positif baru. Kalau kita menemukan kelemahan dan kekurangan hasil dari evaluasi diri, maka tugas kita untuk merubah banyak hal untuk menjadi lebih baik. Nah, buatlah kebiasaan positif baru untuk memperkuat karakter positif kita.
-
Mengeliminir kebiasaan negatif lama. Banyak kebiasaan jelek yang kita miliki, kita harus secara sadar mengeliminirnya, bukan mengandalkan orang lain untuk “mengawasi” kita.
-
Memiliki self efficacy. Keyakinan diri atas kesuksesan dari rencana hidup kita akan membawa pada motivasi yang menetap di level atas. Keyakinan didasarkan atas mimpi yang “bertuan, bertuhan & bertujuan”.
Dua. Mempertahankan Motivasi Eksternal
-
Membangun support system. Meminjam istilah yang saya dapat dari pak Bambang Nugroho (semarang), support sistem adalah supporter yang akan menyelentik ketika kita berbuat keliru dan di jalan yang sesat. Mereka adalah:
- Ortu, pastinya karena rasa sayang tanpa batas yang mereka miliki untuk “darah”nya.
- Keluarga, karena self belongingness berbasis kekerabatan yang dimiliki.
- Sahabat, atas kedekatan hati dan kesamaan visi hidup.
- Ustad, atas tanggung jawab dakwah dan konsekuensi sereligi.
- Jamaah, karena intensitas bertemu itu akan mengikat pada visi yang sama.
- Mentor, karena tanggung jawabnya untuk menularkan pengetahuan yang sama.
- Atasan/Guru/Dosen Kita, orang-orang yang memiliki jiwa mendidik dan membimbing.
- Orang-orang yg peduli, yang mungkin kita tidak duga kapan datangnya.
-
Meletakkan diri di lingkungan positif. Lingkungan yang baik adalah lingkungan di mana kita bisa melakukan adjustment (merubah sesuai keinginan kita) dan adaptasi (mengikuti keinginan sesuai lingkungan dan paradigma mereka).